When She Fell in Love [SEQUEL]

kiyeon2

Tittle: When She Fell in Love | Author: seulras| Genre: Romance| Main Casts: Yoo Kihyun, Park Jiyeon |Rating: PG-15

.

.

.

.

.

Pertama-tama, aku minta maaf aja gitu sama cerita aku di wattpad yang ga kelar-kelar. Yang emang ga menarik. Hadeuh. Btw, ini sequelnya ya maafin aku kalo ga sesuai ekspektasi dan alur yang terlalu cepat. Ide aku berubah-ubah :(.

HAPPY READING

Hari ini Jiyeon terlihat begitu semangat, dia melakukan apapun dengan senyuman, meskipun memang dia selalu tersenyum. Salah Kihyun! Salahkan Kihyun yang kemarin mengajaknya pulang bersama. Berkat kemarin juga Jiyeon tahu sedikit demi sedikit tentang Kihyun, dan ia mencatat semuanya di buku diary warna hitam miliknya,  seperti Kihyun adalah anak tunggal, kedua orangtuanya bekerja di kantor pemerintahan, Minhyuk adalah sahabatnya sejak kecil, dan Kihyun tidak suka kacang! Aneh sekali. Tapi tetap saja, Jiyeon masih memutlakkan hatinya pada Kihyun.

“Jiyeon-a!” Jiyeon menengok dan menghadap Eunji yang juga menyambut hari ini dengan senyuman, Eunji sempat mencubit pipi Jiyeon sekilas dan tersenyum manis didepan Jiyeon yang memang selalu senang jika pipinya di cubit, Jiyeon selalu berpikir jika ia dicubit berarti ia manis, haha.

“Yah Eunji-yah! Kau tidak akan percaya tentang kejadian kemarin” Eunji memiringkan wajahnya lucu pada Jiyeon, dia bisa menebak jika itu tentang Kihyun tapi- Oh asataga! Eunji melebarkan matanya tiba-tiba saja, dia tidak akan mau membocorkan perkataannya terhadap Kihyun pada Jiyeon. Ya Tuhan, maafkan Eunji yang terlalu membocorkan perasaan Jiyeon pada Kihyun. Tapi jika dipikir ulang, tidak apa, toh dia membantu temannya ini agar Kihyun bisa melihat keberadaan Jiyeon. Eunji mengangguk sendirian memikirkan hal yang dipikirkannya, mendapat tatapan aneh dari Jiyeon yang baru saja ingin memberi tahu kejadian kemarin.

“Yah! Dengar aku dulu” Eunji terkesiap dari pikirannya dan menatap Jiyeon senang sekaligus penasaran, apa Kihyun benar-benar menanggapi bocorannya tentang Jiyeon yang menyukai dirinya?. “Kemarin aku pulang bersama Kihyun!” Wow, itu kemajuan yang cukup pesat. Eunji sampai terloncat kegirangan mendapati perasaan Jiyeon yang mulai ditanggapi oleh Kihyun. Bagaimana tidak senang, ini pasti juga karena berkat dirinya.

“Daebakiyah!” Tanpa mereka sadari, dibelakang mereka berjalan seorang pria yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka diam. Raut wajah pria itu terlihat jahil dan tersenyum aneh seperti sedang memikirkan sesuatu. Pria itu sengaja berhenti dan melihat kebelakang, dia berbalik dan duduk disalah satu bangku yang ada di lorong sekolah berniat menunggu seseorang. Tak begitu lama menunggu dengan pikiran-pikiran anehnya. Seseorang itu muncul memanggil namanya, dia langsung berdiri dan merangkul sahabatnya itu.

“Ternyata seorang Kihyun bisa ada pengagumnya” Kihyun menyipitkan matanya pada Minhyuk, ya sedari tadi yang menunggu Kihyun dan mendengar pembicaraan Jiyeon dan Eunji adalah Minhyuk. Pria yang termasuk TOP 3 visual terbaik disekolah. Sebenarnya Eunji bingung mengapa Jiyeon tidak menyukai Minhyuk saja yang lebih menjanjikan wajahnya ketimbang Kihyun yang sesekali tampak cantic seperti wanita, sedangkan Minhyuk, dia memang mempunyai wajah manly yang seksi, jauhkan pikiran kalian mengenai Eunji yang menyukai Minhyuk, Eunji sudah mempunyai kekasih, dia duduk dibangku kuliah, dulunya senior disekolah yang sama. “Jiyeon” Bisik Minhyuk pada Kihyun mendapati reaksi datar di wajah Kihyun. Minhyuk sempat terkejut dengan reaksi temannya itu. Mungkin saja dia salah lihat, Minhyuk berusaha menepis pikiran negatifnya tentang Kihyun. Memang selama ini banyak yang diam-diam mengagumi temannya itu, namun perasaan wanita-wanita itu selalu saja tergantung, Kihyun memang selalu memperlakukan wanita dengan manis terutama jika ia sudah tahu bahwa wanita itu mengaguminya, tapi Kihyun tidak akan berbuat lebih pada perasaan wanita itu. Tapi mendengar kabar bahwa Jiyeon pulang bersama Kihyun, itu sungguh hal yang lumayan menakjubkan untuk Minhyuk. Pasalnya, Kihyun terlalu mencintai motornya, hingga Minhyukpun dilarang untuk menaiki jok belakang motornya. Atau mungkin-

“Sebenernya kami hanya berjalan dengan dia yang mendorong motornya” Dilain sisi Jiyeon masih bercerita tentang kejadian kemarin pada Eunji yang awalnya senang, namun sekarang menatap Jiyeon aneh.

“Yang benar saja!” Marah Eunji, Jiyeon sedikit menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia juga ingin merasakan duduk dibelakang Kihyun, sekedar memegang bahunya saat berboncengan pun sudah pencapaian terbesarnya. Tapi, kejadian kemarin saja sudah membuatnya senang.

“Tapikan rumahku juga dekat, jadi tidak apa” Belaku, Eunji semakin menggeleng kepalanya mendengar pembelaanku

“Kau sudah gila!” Ini Minhyuk yang berbicara setelah mengetahui bahwa Kihyun hanya mengajaknya pulang dengan berjalan. Kihyun mengerutkan alisnya, dia tidak suka jika diatur, sudah dibilang Kihyun adalah seseorang yang pemarah.

“Jika aku membawa mobil, pasti aku akan menumpanginya, tapi tidak dengan motorku. Kau saja tidak pernah mendudukkan bokongmu di jok ku” Kihyun tetap santai dan berjalan menuju kelasnya, kemudian sekilas matanya menatap Jiyeon dan Eunji yang tengah berbincang di pojok lorong yang menuju kelasnya. Pria itu menunduk sedikit dan memasuki kelasnya bersama Minhyuk yang mengekor.

***

Pulang sekolah sudah menjadi jadwal kebiasaan Jiyeon untuk menunggu Kihyun di halte. Ya Tuhan, lagi-lagi pria itu telatr pulang. Sebenarnya Jiyeon sedikit penasaran apa yang dilakukan Kihyun bisa sampai selama ini. Toh tadi ia keluar bersamaan dengan Eunji, dan Minhyuk juga terlihat buru-buru pulang. Bagaimana dengan Kihyun? Atau ia ada jadwal piket hari ini?. Oh tidak, ini hari kamis. Sedangkan jadwal piketnya adalah hari Senin. Jiyeon berdiri dari duduknya dan kembali masuk kedalam lingkungan sekolah, mengarah pada kelas Kihyun yang bersebelahan dengan kelasnya, bedanya kelas Jiyeon harus melewati kelas Kihyun terlebih dahulu dan itu cukup membuat keuntungan buat Jiyeon agar ia bisa melihat apa yang sedang dilakukan Kihyun setiap ia ijin keluar pada saat jam pelajaran, atau mungkin disaat seperti ini.

Langkah pelannya ketika didepan kelas Kihyun mulai dilakukan, kakinya dengan sengaja sedikit berjinjit demi melihat isi kelas. Matanya melebar ketika melihat Kihyun duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang duduknya membelakangi Jiyeon dan Kihyun duduk menghadap depan seperti saat belajar. Jiyeon langsung menunduk sebelum ketahuan oleh Kihyun dan gadis itu, ia dengan segera berbungkuk sembari berjalan balik dan mulai berjalan cepat meninggalkan kelas. Ia terdiam dalam jalannya, mulutnya bungkam tanpa sedikit ekspresi terbaca di wajahnya. Pikirannya entah kemana sehingga ia terus berjalan cepat tanpa rasa lelah, tak lama ia sudah hampir sampai di gang menuju rumahnya, klakson motor terdengar seperti memanggilnya, ia menoleh sedikit dan melihat Kihyun yang tersenyum dibalik helmnya pada Jiyeon sembari mengangguk sedikit seperti sedang berpamitan. Dan Jiyeon hanya diam tanpa membalas.

Jiyeon seperti kerasukan, tidak biasanya ia berdiam diri di kamar. Gadis itu sesosok gadis yang paling tidak betah berdiam, lebih suka berloncat kesana kemari. Tapi untuk kali ini, Jiyeon akui dirinya tengah patah hati. Dia menampik semua pikiran negative tentang wanita tadi, bahwa wanita tadi adalah kekasih Kihyun yang tidak pernah tercium hubungannya disekolah.

***

Tumben sekali Jiyeon menunggu Eunji di gerbang sekolah, ketika melihat temannya itu dengan segera Jiyeon tersenyum dengan sangat lebar pada temannya itu. Matanya menyipit melihat Kihyun yang berjalan agak jauh dibelakang Eunji sepertinya Kihyun baru saja memarkirkan motornya.

“Ah aku sedih mengapa kau tidak sekelas saja denganku”

“Sebenarnya kau kan yang ingin sekelas denganku agar dapat melihat pangeranmu setiap saat” Menyadari arah pembicaraan Eunji, Jiyeon hanya tersenyum. Dia tipe wanita yang tidak mudah menyampaikan isi hatinya pada siapapun tak terkecuali orang terdekatnya.

Jiyeon ijin ke toilet pada sang guru, sembari membungkukkan badannya dan keluar dari kelas. Matanya tidak lagi mengintip kedalam kelas Kihyun atau pun Eunji. Dia melesat kedalam toilet yang ia yakini sepi, tentu saja ini jam pelajaran pertama sudah pasti toilet sepi. Jiyeon duduk diatas penutup toilet dan terdiam disana, entah mengapa dia sedang ingin menangis saat ini. Dia pikir mencintai seseorang tidak harus menangis, mencintai berarti kau melakukan yang menyenangkan untuk bersamanya. Sepertinya Jiyeon terlalu banyak membaca sebuah puisi cinta, persetan.

Agak berapa lama ia keluar dari toilet dan memandang wajahnya didepan cermin, ya Tuhan dia tidak bisa balik kekelas dengan wajah merah seperti itu. Hidung, mata serta pipi itu memerah karena tangisannya. Sedangkan air mata itu tidak berhenti mengalir, dengan segera Jiyeon mencuci wajahnya sehingga menyamarkan alasan wajahnya memerah karena nangis alih-alih justru karena basuhan air.

Kembalinya Jiyeon kekelas disadari oleh Kihyun yang semenjak tadi melihat kearah luar sekelas setelah tadi melihat Jiyeon berjalan keluar kelasnya. Kihyun sadar wajah Jiyeon memerah, dan alasan Kihyun terhadap wajah Jiyeon sungguh tidak jelas, dia berpikir bahwa Jiyeon kedinginan. Sungguh! Ini musim dingin menuju semi memang, tapi tidak mungkin Jiyeon selemah itu. Tapi mungkin saja dikarenakan kulit putih gadis itu. Kihyun beralih menatap Eunji yang juga sadar akan Jiyeon yang baru saja kembali kekelas, meskipun hanya melewati kelas mereka saja, wajah Jiyeon terlihat sangat merah. Kihyun melihat raut wajah Eunji yang berubah mendadak, awalnya dia tersenyum jahil pada Jiyeon ketika gadis itu melewati kelas mereka, alasannya satu jika gadis itu keluar pada saat jam pelajaran, pasti ingin melihat Kihyun. Tapi tadi Kihyun sempat menangkap wajah tanda tanya Eunji ketika Jiyeon melewati kelas mereka begitu saja, sedangkan pas ia kembali raut wajah Eunji begitu menyedihkan. Hubungan batin seorang sahabat, apa seperti itu?

Dan pulang sekolah sudah tiba, Kihyun lagi-lagi melihat Jiyeon, kali ini diambang pintu menunggu Eunji, mata Kihyun sempat menatap mata Jiyeon yang seolah tidak mau bertatapan dengannya, wajahnya pun tidak seceria kemarin. Jiyeon terlihat sangat jutek padanya.

“Aku pulang duluan!” Dan Minhyuk, juga ikut bertingkah aneh. Sudah dua hari ini, Minhyuk juga terlihat menghindari dirinya. Ada apa? Seseorang tolong beri tahu Kihyun. Dia tidak berdiri dari duduknya, ia menunggu seseorang, seorang perempuan yang semenjak kemarin -kejadian Minhyuk mengambil kunci motornya- selalu datang kekelasnya setiap ia pulang sekolah, dan Minhyuk ingin Kihyun menjauhi gadis itu, maka dari itu Minhyuk mengambil kunci motornya agar dia tidak terlalu lama berbincang dengan gadis itu. Sang gadis? Dia gadis biasa, hanya saja Minhyuk tahu bahwa gadis itu adalah gadis bergilir. Kalian mengerti maksudku kan? Tentu saja Minhyuk mau yang terbaik untuk sahabatnya itu.

“Oppa” Panggilnya gemas, Kihyun menatapnya hingga duduk terlebih dahulu. Sebenarnya tidak ada hubungan diantara mereka berdua, ayolah, gadis yang umurnya lebih muda setahun dari dia itu sungguh sangat bukan tipenya. Lantas mengapa Kihyun mau meladeni gadis itu? Gadis itu meminta bantuan pada Kihyun untuk membungkam salah satu teman sekelasnya tentang foto tanpa busana gadis itu. Alasan gadis itu meminta pada Kihyun karena Kihyun terlihat sangat netral, dia tegas dan bisa diandalkan, maka dari itu gadis itu berbagi cerita dengan Kihyun dan meminta pertolongan pada Kihyun yang disambut baik oleh Kihyun. Kihyun adalah raja yang dapat membuat mabuk wanita akan sikapnya, sungguh pas dengan panggilannya.

“Tadi aku sudah membujuknya, dia bilang hanya mau jika kau yang meminta langsung padanya, tidak dariku” Gadis itu mengerutkan alisnya, dia mengangguk dan berterimakasih pada Kihyun sempat gadis itu ingin mengambil kesempatan untuk mengecup pipi Kihyun. Namun pria itu dengan cepat berdiri dari duduknya hingga membuat gadis itu berhenti seketika dan tersenyum pamit keluar. “Tch”, decak Kihyun setelah gadis itu benar-benar lenyap dari pandangannya. Ia segera keluar menuju parkiran yang terletak disebelah sekolah.

***

Jiyeon masih bersikeras menunggu di halte, gadis keras kepala itu rupanya masih tetap menyukai Kihyun. Setelah melihat tanda-tanda bahwa Kihyun akan keluar gerbang sekolah dengan cepat ia berjalan pergi dari sana, pulang. Setidaknya ia sudah melihat wajah Kihyun terlebih dahulu. Jiyeon mengangkat telpon genggamnya dan menatap pantulan dirinya di layar telpon genggamnya, ia sedikit cemberut ketika tahu wajah merahnya masih disana, hidungnya sedikit mengeluarkan cairan membuatnya kembali menghirup cairan itu hingga hilang dan membersihkannya dengan tisu. Masih dengan layar didepan wajahnya, ia seketika berhenti ketika menyadari bahwa dalam pantulan layar itu tidak hanya ada wajahnya, Kihyun juga berada disana dengan senyuman tipisnya. Jiyeon membeku. Maafkan Jiyeon yang labil, dia semakin mencintai Kihyun!

“Kau kedinginan?” Akhirnya Kihyun yang sedari tadi penasaran dengan alasan wajah Jiyeon yang memerah dapat bertanya juga. Jiyeon menggeleng masih diam dan mulai membalikkan tubuhnya menghadap Kihyun. “Lalu kenapa?”

“Ne- kedinginan” Kihyun menyipitkan matanya menatap wajah Jiyeon, gadis ini tidak mudah berbohong rupanya, dan apa itu pipi merahnya justru membuatnya semakin terlihat gemas. Jauhkan Jiyeon dari Kihyun sebelum pria itu benar-benar jatuh cinta pada Jiyeon!

“Jangan bohong”

“A-aku baru saja menangis” Wajah iba menampak di wajah Kihyun, tunggu sebentar. Apa Kihyun sudah mulai menyukai Jiyeon?. Biar kujelaskan, Kihyun sudah lama memerhatikan Jiyeon, tentu saja semenjak Eunji yang selalu keceplosan mengatakan bahwa Jiyeon menyukainya. Dan itu sudah berlangsung dua minggu yang lalu, Kihyun seorang pria yang dengan melihat wanita bisa jatuh cinta. Ya tentu saja Kihyun menyukai Jiyeon.

“Mengapa?” Tanya Kihyun sedikit memiringkan wajahnya demi bisa melihat wajah Jiyeon yang menunduk. Jiyeon semakin merasakan pipinya memanas ketika Kihyun melakukan itu, dia membeku lagi.

“Ka-kau dengan adik kelas itu?” Kihyun sedikit tersenyum mengerti arah alasan mengapa Jiyeon menangis, Kihyun begitu senang mendengarnya. Itu berarti Jiyeon memang benar menyukainya.

“Tidak ada apa-apa” Jiyeon mengangkat kepalanya seperti ingin berteriak ria, tentu saja dia senang bagaimana tidak. Ternyata yang dipikirkannya salah!. “Sabtu ini, jam empat sore di dekat taman bbongseol. Apa kau bisa datang?” Jiyeon mengangguk mantap, dia yakin, pasti Kihyun mengajaknya berkencan. Biarkan saja Jiyeon terlalu optimis, toh itu baik.

“Mau pulang bersama?” Kihyun tersenyum miring pada Jiyeon dan kembali mendapat anggukkan dari gadis cantik itu. “Ayo kita berkencan”

“Kya! Kau tidak romantis! Kupikir kau akan mengajakku berkencan saat kita sudah ketemuan Sabtu” Kihyun tertawa mendapati komentar Jiyeon, dia memang sungguh pria yang tidak senang basa-basi. Dia menggenggam tangan Jiyeon dan menariknya menuju parkiran, hingga mereka sampai dia menaiki motornya didepan Jiyeon yang terdiam.

“Naiklah” Jiyeon menatap tidak percaya Kihyun, benarkah jok belakang itu hanya untuknya? Tentu saja itu pasti hanya untuknya!

END.

sorry for typo(s)

 

Advertisements

One thought on “When She Fell in Love [SEQUEL]

  1. awalnya kezsel masa numpangnya cuma bareng jln g di naikin…. ich… ah tpi akhirnya mereka naik motor bdua…….next..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s