Demons [ONESHOOT]

tumblr_o859ilEYY41s1vggpo4_1280

Tittle: Demons | Author: seulras| Genre: Sad Romance, Mistery| Main Casts: Oh Sehun, Park Jiyeon |Rating: PG-17

.

.

.

Aku mencintaimu, maka aku merelakan semuanya untukmu. Termasuk nyawaku.

.

.

Dunia ini adalah karya Tuhan yang melampaui segala akal, manusia tidak dapat menentukan mana yang lebih pertama muncul, ayam atau telur? Jika jawabannya ayam, sedangkan ayam berawal dari telur, jika jawabannya telur, manusia tahu bahwa telur itu dari ayam. Karena itu juga aku tidak mengerti mengapa aku dikutuk atau aku dapat mengatakannya ini sebuah kesempatan untuk membangun kerajaanku. Merasakan terlahir menjadi seorang manusia biasa dan melakukan aktivitas manusia yang begitu melelahkan, itu sudah kurasakan selama tujuh belas tahun ini.

“Sehun-ssi kau mencari kelas 3-A?” Aku tersadar dari lamunanku menyadari seorang perempuan bertanya padaku dengan lembut, terlihat dia sangat gugup. Kulihat sekilas name-tag-nya bertuliskan Cho Riyoung disana.

“Tidak, apa kau berada dikelas yang sama denganku?” Angguknya sedikit tersenyum, kunaikkan alis mataku sekilas dan meninggalkannya sendiri. Menjadi seorang anak iblis dalam wujud manusia biasa tidak membuatku harus berbuat baik pada bangsa ini. Sepuluh tahun aku hidup sendirian, saat umur tujuh tahun kubunuh ibuku sendiri tanpa sedikitpun tanda bukti mengarah padaku. Aku ingat aku membunuhnya saat dirinya tengah mencumbui selingkuhannya di ruang keluarga, wanita tua itu sungguh ceroboh meninggalkan pisau disamping sofa. Kalian dapat menebaknya? Aku memasuki pikiran selingkuhannya dan membunuhnya menggunakan pisau itu. Kini selingkuhannya berujung dikantor polisi dengan hukuman seumur hidupnya. Suami sahnya? Tampaknya dia sangat sedih, seharusnya dia senang karena aku membantunya. Kata kata terakhir pria itu sebelum memilih untuk menyekolahkanku ke kota adalah “Aku menyayangimu sebesar aku menyayangi ibumu, tidak penting berapa dosa yang pernah kau lakukan padaku”. Mengatakan bahwa aku sempat menjadi malaikat dan mengklaim para iblis, aku akan melindungi ayahku. Kududukkan diriku di salah satu bangku diantara sembilan belas bangku lainnya. Seperti tak terkendali, kepalaku begitu saja mengarah keluar jendela melihat seorang gadis berhidung mancung melewati kelasku. Apa dia tampak paling bersinar diantara yang lain? Nyatanya iya, gadis itu sangat bersinar dimataku. Jangan pernah salahkan hormon manusia dari perut yang menjalar ke pikiran dan menyatakan bahwa kau telah jatuh cinta pada sosok lawan jenismu pada pandangan pertama.

 

.

 

Merasakan seseorang yang mempunyai perasaan lebih denganmu dan berusaha mendekatimu, itu adalah hal biasa yang sering kudapati semenjak aku duduk dibangku sekolah dasar. Mempunyai paras tampan bukan menjadi kebanggaanku, justru membuatku membenci diriku. Gadis bernama Riyoung itu menarik bangkunya menuju sebelahku, dan membuka bekalnya diatas mejaku.

“Sehun-ssi, aku sengaja membuat porsi yang sedikit lebih banyak” Ucapnya tersenyum malu, entah sejak kapan dia sudah mendekati sendok berisi nasi kedekat mulutku. Sungguh mahluk menjijikkan

“Apa aku bilang aku mau makan denganmu?” Tanyaku yang berlalu meninggalkannya, lagi. Manusia memang sangat keras kepala, mengapa mereka tidak ikut denganku ke neraka? Mengapa mereka harus diselamatkan? Kuhentikkan langkahku ketika kepalaku lagi lagi menghadap objek yang sempat kulihat tadi pagi, objek yang sangat sempurna dimataku. Wajahnya terlihat lebih anggun ketika kau melihatnya dari samping, karena dari samping kau akan melihat betapa sempurnanya porsi wajah itu. Iblis tidak akan membiarkan keinginannya pergi begitu saja. Ya setidaknya aku bersyukur bahwa darah itu masih ada dalam tubuh manusia ini, begitu juga aku akan mengejarnya.

Sepertinya bukan hanya aku yang merasakan auranya, buktinya seseorang terlebih dulu menghampirinya dengan mengulurkan tangannya tersenyum penuh kesombongan. Aku akan menandaimu, bahwa kau hanya milikku.

“Hai, aku Kris” Rupanya pria itu sangat berani untuk bermain dihadapan banyak orang, sepertinya ia mengagumi kepopularitasannya. Jangan pernah sentuh pria lain dihadapanku. Sepertinya gadis itu tidak menurut hingga dia menyambut tangan pria berwajah sedikit barat itu.

“Jiyeon” Kupikir lidahku bekerja sendiri ketika lidah ini menjilat sendiri bibirku setelah mendengar suaramu yang memabukkan. Aku tersenyum sesaat kau langsung menghabiskan waktu pria itu menyentuh tanganmu, bagus, karena hanya ada aku yang boleh menyentuh tanganmu.

“Kau mau kemana?” Baru saja aku ingin melangkah kembali kekelas namun suara pria itu seperti menjadi alarm untukku hingga aku kembali berbalik menatap keduanya. Jiyeon, aku ingat nama itu, tersenyum kaku pada pria yang kalau tidak salah bernama Kris itu.

“Eh?” Semua murid tampak sangat antusias melihat mereka, sedangkan aku hanya ingin menyembunyikan kebenaran bahwa aku ingin sekali meninju pria itu, atau mungkin membunuhnya? Kupikir itu menyenangkan. Bisa saja aku langsung menarik tangan gadis itu, tapi aku ingin ia jatuh padaku, aku tidak ingin memaksanya. Jika dia tidak mau memilih pilihan tepat maka aku akan memaksanya, simple.

“Kau mau kemana nona?” Pria itu sepertinya sengaja masuk kedalam lingkaran kehidupanku, lihatlah kata-katanya yang terdengar seperti sebuah rayuan.

“Aku ingin kembali kekelas” Dia gadis yang sangat baik, dapat kuketahui itu dengan senyumannya yang begitu cerah. Ini kali pertama aku bernafas lega seumur hidupku, ketika Kris memberikan jalan untuk gadis itu. Kubalikkan tubuhku memasuki kelas. Memikirkan rencana matang untuk membuat Jiyeon jatuh padaku, mungkin itu yang akan kulakukan mulai detik ini. Membayangkan jika Jiyeon jatuh pada pesona Kris membuatku ingin menelan pria itu hidup-hidup karena sudah berani membuat kehidupanku berantakan.

 

***

 

Rencana Tuhan adalah satu satunya rencana yang tidak pernah bisa kau tebak, sekalipun kau mempunyai seperempat kekuatannya, aku juga tidak mengerti mengapa Dia dapat menciptakan seorang gadis seperti melebihi kata sempurna. Langkah kakinya seperti sebuah melodi yang indah. Sepertinya aku sudah mengingat ketukan kakinya. Gadis itu melewatiku begitu saja meninggalkan aroma memabukkan. Dia tidak harum seperti buah ataupun bunga, karena dia jauh lebih harum dibandingkan dengan kedua itu. Aku mengikutinya dalam diam, mengambil langkah dibelakangnya, kembali aku mengklaim diriku sebagai malaikat pasalnya aku khawatir jika dia sendiri. Sepertinya ia memilih bus untuk mengantarnya sehingga mengharuskanku berdiri menunggu bus sedikit dekat dengan keberadaannya.

“Jiyeon-ssi” Suara lelaki ini mengapa mengusik telingaku, kuedarkan pandanganku menatap Kris berada dalam mobil mewahnya. Dia seperti menawarkan tumpangan pada Jiyeon, dengan senyuman dan gelengan pelan gadis itu menolak secara halus, tidak lupa kata terimakasih dibelakang penolakannya. Amarahku ingin memuncak saat aku sadar Kris turun dari mobilnya dan mencoba membujuk Jiyeon dengan menarik lengannya.

“Hey, bukankah dia bilang dia tidak mau?” Masih pada posisi yang sama dengan bersenderan pada tiang halte dan tangan yang menyilang didepan dada, aku mengarahkan ucapanku pada Kris. Pria itu sedikit menyeringai dan meninggalkan tempat ini begitu saja.

“Aku baru saja mengenalnya tadi pagi, namun ia sedikit lancang tadi siang membuatku takut padanya” Rencanaku, apa mulai berjalan? Tanpa permintaan gadis itu membuka suaranya padaku

“Apa yang dia lakukan?” Tanyaku singkat menyembunyikan kebenaran bahwa aku ingin menciumnya, memilikinya seutuhnya. Perhatianku yang semula masih tidak terpaku padanya, kini hanya fokus kepadanya, pada kepalanya yang tiba tiba saja menunduk. Aku merasakan ada hal yang salah dilakukan Kris setelah pria itu memberikan jalan pada Jiyeon.

“Tidak ada” Jiyeon menegakkan kepalanya terkekeh padaku, sangat terlihat sekali tawa yang dipaksa. Sepertinya aku benar benar penasaran akan kejadian itu

“Apa yang dia lakukan?” Tanyaku sedikit ketus, Jiyeon tersentak memandangku sedikit takut. “Apa yang dia lakukan padamu?” Tanyaku sekali lagi sedikit lebih lembut ketimbang pertanyaan sebelumnya, dia kembali menundukkan kepalanya, oh ya gadis ini sangat membutuhkanku untuk melindunginya. Hanya aku.

“Mungkin bukan hal yang penting, dia menepuk bokongku” Brengsek! Sudah kuperingatkan jika dia masuk kedalam duniaku, maka dia akan menerima balasannya. Balasan yang sepatutnya. Berani berbuat pada ratu maka kau akan menerima balasan dari sang raja.

“Ijinkan aku untuk terus berada disisimu” Ucapku singkat, dia tampak kebingungan menatapku seolah tidak mengerti perkataanku. Sepertinya aku menyatakan cintaku sedikit lebih cepat.

“Aku juga ragu akan itu, banyak orang bilang jika pria pendiam lebih kejam dibanding pria cerewet” Aku terkekeh mengejek perkataannya, dia tampak tersenyum disana. Hanya padaku senyuman itu akan terus mengembang.

“Hey, jangan percaya perkataan orang. Tidak semuanya seperti itu” Dia mengangguk padaku seperti mengijinkanku akan tawaran tadi, dia terlihat sangat senang. Ini terlihat lebih dari kata sempurna dari rencanaku, ada rasa keingin tahuan dimatanya, dia sudah jatuh padaku.

 

.

 

Aku memasuki kamarnya, melihatnya terbaring diatas tempat tidur. Sudah kubilang raja akan membalas semuanya. Jangan pernah berpikir untuk masuk kedalam kehidupanku lagi

“Aku tahu kau akan datang” Shit, apa dia tahu kedatanganku? Untuk kepertama kalinya aku merasa sangat dipermalukan meskipun tidak ada siapa siapa diruang ini. Iblis dapat melihat dalam keadaan gelap, dan kuragukan jika dia dapat melihat dalam keadaan seperti ini, tidak ada penerangan sedikitpun di ruangan ini.

“Kau telah mengkhianati kaummu” Kulebarkan mataku, apa-apaan ini? Apa ada anaknya yang lain untuk diutus ke bumi? Sial. Mengapa aku baru tahu ayahku sangat keji?

“Tidak” Kris mendudukkan dirinya dipinggir ranjang, menyeringai mengejekku. Sedangkan aku hanya menatapnya tidak pasti, heran, marah, dan benci.

“Kau kesini untuk membuat mereka ke neraka, menjadi prajurit kerajaan. Tapi yang kau lakukan hanyalah berdiam diri, mengurus hal yang tidak penting” Aku punya alasan untuk itu, aku punya rencanaku sendiri. Sudah kubilang jangan ikut campur dalam kehidupanku. “Ayah akan memberikanmu hadiah ketika umurmu mencapai 25 tahun, jika kau tidak bisa menyelesaikan tugasmu. Aku pergi” Aku sadar, Kris sekarang kembali tertidur di ranjangnya, oh apa Kris yang tadi pagi kulihat adalah kaumku? Moodku rusak karenanya dan aku hanya akan kembali kerumahku.

 

***

 

Kejadian semalam memang cukup membingungkan, sekarang aku melihat Kris bukan seperti Kris yang kemarin. Meskipun dia masih tergila gila dengan kepopularitasannya, nyatanya dia melewatiku dan Jiyeon seperti orang asing. Dan aku tidak perduli itu.

Bersama Jiyeon membuatku sedikit tenang, dia membawa aura kenyamanan kemanpun kau pergi. Dia seperti malaikat pelindungmu, tapi aku sadar aku yang harus melindunginya. Aku senang karena gadis bernama Riyoung itu menghentikan aktivitasnya yang mendekatiku ketika mendengar kabar bahwa aku dan Jiyeon menjalin hubungan kami. Hubungan? Sepertinya mereka terlalu cepat mengatakan bahwa kami berada dihubungan yang spesial, nyatanya aku dan Jiyeon tidak pernah melempar kata rayuan kata kata cinta seperti remaja yang tengah jatuh cinta pada umumnya. Tapi aku sudah menyatakan perasaanku bukan? Untuk selalu berada disisinya? Bukankah itu tampak seperti mempelai pria yang mengucapkan janji sakral pada Tuhan untuk terus bersama mempelai wanitanya? Aku tidak sadar bahwa kami seperti ini sudah lebih dari enam tahun. Umurku sudah menginjak 23 tahun, semakin lama itu juga aku merasakan banyak yang mengintainya.

“Jiyeon-ah” Panggilku padanya, aku melihatnya didepan cermin mematut dirinya yang berbalut pakaian serba putih yang mewah. Dia akan resmi menjabat sebagi nyonya Oh. Sudah kubilang senyuman itu hanya akan terus mengembang untukku, itulah yang dia lakukan saat ini menghampiriku dan memelukku mendaratkan kepala mungilnya kedalam dadaku, dan aku dengan senang hati menyambut wine-ku.

“Aku senang” Gadisku sangat bahagia, tapi bagaimana aku memberitahunya jika aku anak iblis? Apa aku harus menyimpan satu kartu diantara beribu tumpukan kartu. Aku sudah merasakan bahwa mereka sudah mengincarmu dan menandaimu. Tapi aku akan melindungimu, berurusan denganmu maka dia akan mendapat balasan dariku. Itu sudah menjadi hukumku.

 

.

 

Mendaratkan bibirku pada bibir mungilmu, aku sudah menantikan ini seumur hidupku, Jiyeon. Memberi beberapa tanda bahwa kau hanya milikku di beberapa bagian vitalmu. Pelan pelan aku bermain diantara kedua pahamu, memainkan daerah sensitifmu berkali kali. Mengetuk berkali kali, hingga pintumu terbuka mengijinkanku untuk masuk menumbuhkan benih benih padamu.

 

.

 

Ini kembali kurasakan, ada yang mengintainya. Sial! Beberapa jam lagi ulangtahunku yang ke 25, aku tidak yakin sesuatu itu dapat dikatakan hadiah. Yang aku yakini itu adalah bencana besar yang aku sendiri tidak dapat menghindarinya, aku hanya manusia setengah iblis sedangkan ayahku sepenuhnya iblis dia mendapatkan setengah kekuatan Tuhan. Untuk kali ini aku akan berdoa pada Tuhan, setidaknya Ia mau tetap melindungi istriku.

“Sayang, ayo tidur” Himbauku pada Jiyeon ketika melihatnya masih asik merajut, dia tampak lelah namun tetap tersenyum. Oh Tuhan, dia sangat sempurna.

“Kau duluan saja” Kulihat sesuatu yang ia rajut semenjak tiga hari yang lalu, itu sebuah syal berwarna abu. Mengapa ia rela menghabiskan waktu tidurnya demi barang itu?

“Baiklah, kurasa aku akan menemanimu hingga kau mau tidur” Aku mengambil posisi duduk disampingnya, sial, mengapa hawa ini kembali datang. Kuedarkan pandanganku menatap sekeliling rumah. Apa mereka disana semakin kuat sedangkan aku disini tidak mengalami kemajuan dalam kekuatanku? Aku tidak dapat melihat mereka.

“Kenapa?” Kembali pandanganku menatap istriku, setidaknya ia dapat membuatku tenang. Dia masih asik dengan merajutnya, pasalnya ini sudah jam setengh dua belas malam dan ia masih setia dengan syal itu?

“Aku kedinginan” Sedikit bermanja apa akan membuatnya menghentikkan aktivitasnya? Kudaratkan kepalaku pada pundaknya menatapnya sedikit memberikan mata anak anjing. Dia tertawa melihatku, dan meletakkan rajutannya. Sepertinya syal itu sudah jadi. Dia melingkarkan tangannya keleherku, dia menginginkan hal itu? Baiklah. Hanya sekilas bibirnya mendarat, ah aku ingin lebih, namun lagi-lagi hawa lain kurasakan dirumah ini. Aku berdiri karena sedikit gusar takut sesuatu terjadi pada Jiyeon. Jiyeon menggenggam tanganku mengharuskanku menatapnya, dia memberikan syal tadi untukku.

“Selamat ulangtahun” Dia sangat cantik.

“Terimakasih sayang, ayo kita tidur, besok aku akan membawamu jalan”

 

***

 

Author POV

 

Erangan terdengar dikamar tidur itu, Jiyeon menatap kearah sampingnya. Dia terdiam saat melihat suaminya seperti melawan sesuatu. Entah mengapa wanita itu tidak takut atau membantu suaminya, yang ia lakukan hanyalah menatap diam. Tidak ada emosi yang terpancar diwajahnya.

“Pagi sayang” Jiyeon mengecup lembut bibir suaminya, membersihkan wajah suaminya yang berkeringat. Sehun membuka matanya sedikit, dia seperti terluka parah. Dia tidak mau Jiyeon tahu dia sudah melawan iblis semalam, dia tidak akan membuka kartunya.

“Sepertinya kita tidak jadi jalan, aku sedikit kelelahan” Jiyeon masih setia menatap Sehun, begitu juga Sehun masih setia menatap Jiyeon. Jiyeon memegang pipi tirus suaminya dan mengusapnya lembut.

“Tidak apa, apapun itu aku senang asalkan harus ada kau”

 

.

 

Setiap malam Sehun selalu melawan iblis yang mencoba mencelakainya dan Jiyeon. Pikirannya satu, dia selamat, Jiyeon selamat. Setiap malam itu juga Sehun merasakan ada yang tidak benar dalam dirinya, ia semakin ganas. Apa ini hadiahnya? Tapi dia tidak mau Jiyeon melihatnya dalam keadaan seperti ini, kartu itu masih tertumpuk disana diantara beribu kartu. Dia menandai kartu itu dengan lambang iblis.

Jiyeon melihat diam Sehun yang semakin seram dimatanya, pria itu lebih menyukai pakaian gelap, rambutnya yang semula kecoklatan ia warnai hitam pekat. Sekarang Sehun membangun sebuah penjara dirumahnya sendiri. Dikamar tidurnya, lebih tepatnya. Sehunpikir jika ia membangun jeruji itu disana, ia akan bisa melawan iblis itu disana tanpa mengganggu Jiyeon. Ia akan bisa melindungi Jiyeon, dia takuty dia tidak bisa dikendalikan saat malam tiba.

 

“Maafkan aku, aku takut akan melukaimu” Sehun mengecup ringan kening Jiyeon, gadis itu sedikit berpikir kemudian tersenyum memeluk Sehun erat.

 

.

 

Sehun sudah melindungi Jiyeon dengan pagarnya, jika iblis itu mau membahayakan Jiyeon maka mereka harus membunuh Sehun terlebih dahulu. Ini yang Sehun takutkan kedatangan iblis yang sempat memasuki tubuh Kris itu datang. Setiap malam Sehun sudah menghabiskan tenaganya, tapi untuk melawan iblis ini Sehun ingin mundur namun mengingat betapa menjijikkannya perbuatan iblis ini pada Jiyeon. Sehun akan membunuhnya terlebih dahulu.

“Pengkhianat, aku datang” Detik itu juga mereka mengeluarkan kekuatan mereka sampai maksimal, katakan bahwa cinta lebih kuat dibanding apapun. Sehun sempat terdiam melihat Jiyeon yang membuka matanya menatapnya tanpa emosi. Dengan sekali bantingan Sehun memenangkan pertandingan itu, ini masih malam dia takut dia tidak bisa mengendalikan dirinya, tapi saat ini dia ingin memeluk Jiyeon. Jiyeon mendekati Sehun tersenyum

“Aku ingin bersamamu” Ucap Jiyeon mengambil langkah lebih dalam menuju Sehun

“Kau dapat pergi ke tempat yang jauh lebih bagus. Dan aku? Hanya akan berada disini, terkurung disini” Sehun sedih melihat Jiyeon yang dengan cepat menundukkan kepalanya. Jika saja Tuhan tahu Sehun ingin hidup lebih lama bersama Jiyeon. Dia berjanji tidak akan menjadi iblis demi Jiyeon, jika Tuhan mengijinkannya.

“Tidak apa, aku akan menunggumu keluar dari sini” Wanita itu tidak takut pada Sehun, sekalipun dia adalah iblis “Jangan mendekat, didalam sini ada gelap gulita” Sehun sadar istrinya sudah memegang jeruji besinya mengambil jarak lebih dekat dengannya. Tangan ramping Jiyeon menelusuri tiap luka Sehun

“Kau tahu betapa aku mencintaimu, aku tahu semua kebohonganmu dan aku menyukai itu” Jiyeon tersenyum dan menghilang bak ditelan angin yang begitu saja menembus kamar mereka. Padahal tidak ada ventilasi diruangan itu, jendela masih tertutup rapat. Dengan hitungan sedetik Sehun tidak sadarkan diri beriringan dengan menghilangnya Jiyeon. Sehun melihat kartu yang selama ini ia tumpuk sudah berserakan, Jiyeon sudah mengetahui jati dirinya, dan Jiyeon tetap mencintainya. Karena Sehun baru mengetahui fakta bahwa ia mencintai seorang malaikat. Sungguh sebuah takdir aneh yang direncanakan Tuhan.

“Pagi sayang” Sehun terbangun melihat Jiyeon yang sudah beringsut memeluknya menaruh kepalanya diatas lengannya yang telentang menjadi bantalan kepala Jiyeon. Sehun tidak mengerti mengapa kini ia berada diatas kasur, dengan kaos putih. Seingatnya Sehun memakai kaos hitam tiap ia tidur semenjak ulangtahunnya yang kemarin.

“Aku mencintaimu, maka aku merelakan sayapku untukmu” Penjelasan itu seakan menjadi jawaban Sehun. Istrinya menyelamatkannya dari dunia iblis dan membawanya kedalam dunia manusia sepenuhnya.

“Aku sangat mencintaimu, sayang. Terimakasih”

 

END

 

Maaf jelek, typo, dan segala hal yang tidak berkenan dengan hati readers ehe.

Advertisements

2 thoughts on “Demons [ONESHOOT]

  1. pdhal udah dpt pw dr bbrpa hri kmrin, tp bru bisa bca skg…
    jd akhirx sehun ma jiyeon bner2 brubah jd manusia…
    syukurlah mreka happy ending…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s