I’m Here [ONESHOOT]

Untitled-1

 

Tittle: I’m Here | Author: seulras| Genre: Romance, Friendship| Main Casts: Oh Sehun, Park Jiyeon |Rating: PG-17

AN: FF ini murni hasil karangan saya, sedikit terinsipirasi dari one piece lmao, terus terbawa suasana karena lagi dengerin BTS – Butterfly hasilnya ff ini. Disini bakalan banyak yang aneh mungkin tapi gatau deh, semoga menarik dan menjadi permintaan maaf saya menghapus ff focus on you dikarenakan saya gaada feel dan inspirasi buat ngelanjutin ff yang bener bener aneh itu lmao. Tapi makasih buat yang udah komen dan baca bilang kalo ff itu bagus ato bikin greget makasih hehe.

***

Jepang, Ikebukuro, 21 Juli 2001

 

Kepulan asap hangat keluar dari mulut seorang pria berumur kepala dua yang duduk tepat didepan seorang yeoja berumur delapan tahun, yeoja kecil itu menatap pria itu lekat tanpa mengalihkan pandangannya. Semua ekspresi yang dikeluarkan gadis itu tenang, tidak ada rasa marah, dendam, senang, sedih, dia hanya diam. Mari katakan yeoja kecil itu bullshit, tidak ada seseorang yang berani menatap langsung pria yang ada dihadapannya, terlebih seorang anak kecil. Pria itu hanya melihat dengan mata kanannya, sedangkan mata kirinya terdapat luka goresan, dadanya yang terbuka terdapat beberapa jahitan. Tapi faktanya, gadis itu tidak takut sedikitpun.

“Kau kembali saja kerumah” Ujar pria itu, tidak ada respon gadis itu tetap menatapnya dalam diam. Pria itu tersenyum singkat mematikan rokoknya, dia berdiri dan mengamit tangan gadis kecil itu mengajaknya bangkit dari duduknya. Pekerja di kedai itu membungkuk seiring pria itu berjalan melewati mereka, beberapa dari pengunjung menatapnya seram, beberapa dari mereka juga tersenyum mengingat pria seperti itu menggandeng yeoja kecil. Jujur saja pria itu risih akan tatapan mereka yang menganggapnya seram, apa manusia tidak boleh mempunyai luka? Apa manusia yang memperjuangkan hak mereka dikatakan salah? Ya, di kota kecil ini jika kau melawan peraturan pemerintah kau akan menjadi penjahat. Pria itu hanya memperjuangkan kota kecil itu, dia tidak ingin warga disini diharuskan membayar pajak besar untuk pemerintah sedangkan fasilitas dari mereka tidak sedikitpun berharga.

“Sensei, apa sensei tidak mau kembali?” Gadis kecil yang berjalan disamping pria itu mulai mengeluarkan suaranya dan menatap sedih pria disampingnya yang ia panggil guru, pria itu menghentikan langkahnya dan berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis kecilnya. Pria itu memegang kedua bahu gadis itu menatapnya dengan senyuman terindahnya

“Impianku adalah mati disini, bagaimana dengan impianmu? Apa impianmu mengikutiku terus seperti ini?” Gadis itu sedikit terlonjak mendengar kata kata terakhir pria yang ada dihadapannya, mengikutinya terus? Memang itu yang selalu gadis itu lakukan setelah kehilangan kedua orang tuanya. Air berlinang dikedua pipi gadis itu, pria itu menghela nafasnya berat dan mengangkat gadis itu. Dia menggendong gadis itu.

“Aku sangat mencintaimu, Jiyeon-ah. Aku tidak mau kau menghabiskan hidupmu untuk terus bersamaku” Ucapnya sedikit pelan, namun ia yakin gadis kecilnya –Jiyeon- mendengarnya. “Umur kita terlampau jauh” Gumam pria itu menundukkan kepalanya.

***

Korea Selatan, Ulsan, 17 November 2009

 

Ini tahun ke-3 ia tinggal di negara ini, semuanya sama tidak ada yang berubah semenjak hari pertamanya ia menginjakkan kaki di kota metropolitan ini. Tidak mempunyai seorang teman. “Tidak seorangpun yang terlahir kedunia ini hidup sendirian” dia mengingat perkatan seorang pria yang terus bersamanya sejak kecil, namun seolah semua perkataan pria itu adalah bullshit. Buktinya dia sudah tiga tahun disini dan ia masih tidak mempunyai siapa siapa. Tidak ada yang patut ia perjuangkan disini.

“Park Jiyeon, kau dipanggil keruang guru” Dia menoleh kearah sumber suara mendapatkan seorag yeoja berpakaian sama dengannya. Jiyeon hanya mengangguk dan berdiri dari duduknya berjalan menuju kearah ruang guru berharap tidak ada yang perlu khawatirkan tentang sekolahnya.

Gadis itu membuka pelan pintu transparan dihadapannya setelah sebelumnya ia mengetuk, dia mengedarkan pandangannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya seorang wanita paruh baya, dia terlihat sangat lembut dan baik. Jiyeon sedikit membungkukan tubuhnya untuk memberikan hormat

“Soojung bilang aku dipanggil keruang guru” Wanita itu tersenyum, sungguh pemandangan yang indah. Bahkan ia menepuk pundak Jiyeon lembut seolah memberikan semangat pada gadis berumur enam belas tahun itu

“Dia hanya ingin bermain denganmu, cobalah berbaur” Jiyeon seakan baru tersadar ia dipermainkan, gadis itu tersenyum dan berbalik meninggalkan ruangan itu. “Dia hanya ingin bermain denganmu?” Jiyeon terkekeh kecil dan menghentikan tawanya begitu saja, tatapan seram sekarang yang ada. Ingin sekali dia membanting Soojung kelantai. Tapi dia masih mempunyai rasa kemanusiaan, dia masih menganggap Soojung calon teman baiknya.

“Soojung-ah terimakasih karena kau setidaknya aku tidak melihat dia hanya duduk dibangku itu terus, mataku sakit melihatnya berdiam diri” Jiyeon menghentikan langkahnya dan memilih bersender kearah dinding kelasnya berusaha mendengarkan apa yang dikatakan teman sekelasnya.

“Aku kasihan melihatnya tidak dapat membuka dirinya, aku ingin menjadi temannya” Itu Soojung, Jiyeon hafal betul suara Soojung yang terus mengusik telinganya. Dan yang satu lagi

“Sooji-ah kita harus mendekatinya!” Ya Sooji, teman akrab Soojung. Jiyeon sedikit tersenyum, kali ini dia percaya akan kalimat gurunya “Tidak seorangpun yang terlahir kedunia ini hidup sendirian”.

“Kau harus beruntung dapat menjadi teman mereka” Jiyeon menghadapkan wajahnya kearah kanan bawah, orang yang berbicara itu tengah berjongkok disampingnya sembari memutarkan bola basket yang berada diujung jari telunjuknya. Dia Sehun, pria yang tidak pernah mengerjakan tugas, namun selalu belajar jika ada ujian. Typically. Sehun tersenyum dan masuk kedalam kelas, diikuti Jiyeon yang berjalan dibelakangnya.

“Jiyeon-ah! Apa kau nanti sibuk?” Tanya Sooji, Jiyeon sedikit melirikkan matanya pada Sehun dan pria itu hanya tersenyum seolah mengatakan “Katakan kau tidak sibuk”. Jiyeon menggelengkan kepalanya, setan apa Sooji dan Soojung memeluk gadis berkepala dingin itu kegirangan.

Jepang, Ikebukuro, 17 November 2009

 

“Pasien atas nama Cho Kyuhyun menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 4 sore” Dokter pria itu mengucapkannya sedikit bergetar, dia kehilangan teman sekaligus pasiennya yang sangat dermawan diumur mudanya.

“Dokter Ishikawa, aku menemukan ini” Seorang suster memberikan secarik kertas berwarna cream pada sang dokter, Kaito –dokter- mengerutkan keningnya dan berjalan cepat kearah ruang kerjanya.  Pria muda itu duduk dan membaca isi kertas yang sangat terlihat bahwa kertas itu baru ditulis beberapa saat sebelum Kyuhyun pergi.

Kaito,

Kau tahu aku sudah pasrah akan hidupku, jadi jangan bersedih. Aku sangat berterimakasih pada Tuhan mempertemukanku dengan teman sepertimu. Apa kau ingat gadis yang selalu kubicarakan? Aku mewariskan semua hartaku padanya, ini permintaan terakhirku padamu. Tolong berikan padanya semua itu. Terimakasih Kaito

Kaito tertawa sedikit, menutup rasa sedihnya. Dia harus menemukan gadis itu.

Korea Selatan, Ulsan, 19 November 2009

Gadis itu tertawa dengan kedua temannya, tidak ada lagi yang namanya kesendirian, ia sangat berterimakasih pada gurunya. Ia sangat ingin pulang ke Jepang dan memeluk pria itu erat berterimakasih akan segalanya

“Jiyeon, ada yang ingin bertemu denganmu diruang tunggu” Gadis itu mendapatkan Jeon seonsaengnim dibibir pintu menatapnya sedih. Katakan Jiyeon tidak mengerti akan apa yang akan terjadi padanya, dia tersenyum pada guru wanita itu dan berjalan seiring dengannya

“Jika kau merasa sendirian, kau bisa kerumahku” Jiyeon mengerutkan keningnya tidak mengerti arah pembicaraan gurunya. Guru Jeon menghentikan langkahnya

“Kau bisa menganggapku kakak ataupun ibumu, Jiyeon-ah” Gadis itu hanya tersenyum menatap gurunya dan berjalan sendiri kearah ruang tunggu. Sungguh dia tidak mengerti pembicaraan gurunya itu, sesaat ia telah membuka pintu ruang tunggu gadis itu terdiam. Dia yakin pria ini dari Jepang dilihat dari rahangnya

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya pria itu basa basi, tidak ingin membiarkan gadis itu shock akan berita yang dia sampaikan nanti

“Baik, apa sensei yang mengirimmu kesini?” Kaito mengangguk dan menghela nafasnya berat, tangannya mulai mengeluarkan secarik kertas sakral tentang kehidupan Jiyeon kedepannya bergantung pada kertas itu.

“Untuk apa sensei memberikan semuanya, lalu disana dia bagaimana?” Kaito masih mengeluarkan satu kertas lainnya, kertas kematian temannya, dimulai dari hari apa penyebab kematian dan sebagainya. Tidak lupa foto pria yang sudah pergi itu terdapat dalam kolom kiri bawah. Kaito menatap Jiyeon yang masih menutup mulutnya tidak memegang kedua kertas itu, hanya membacanya dari duduknya.

“Baka!” Jiyeon berlari meninggalkan Kaito begitu saja, pria itu sudah berusaha menahan tangisnya, dia tahu semua tentang Jiyeon. Dia tahu Jiyeon hanya mempunyai Kyuhyun didunia ini, dia tahu Jiyeon adalah gadis bermata dingin. Tapi untuk kali ini semua itu sirna, hanya karena seorang Kyuhyun. Guru gadis itu. Kaito heran mengapa Jiyeon memanggil Kyuhyun guru, apa hanya karena pria itu sempat mengajar sebagai guru Taekwondo?

Katakan bahwa ini seperti drama, katakan bahwa Jiyeon sangat berlebihan merespon semuanya, karena sekarang gadis itu terjatuh dihalaman belakang sekolah. Dan dia hanya terdiam disana meratapi nasibnya kehilangan Kyuhyun, kehilangan gurunya, kehilangan seseorang yang satu satunya mencintainya. Dulu Jiyeon seperti ulat tidak mempunyai siapapun menunggu untuk menjadi kepompong dan kini ia sudah menjadi kupu kupu namun terperangkap kejaring laba laba. Gadis itu tidak kuat menghadapi kisahnya. Tubuhnya terangkat, bukan dia yang melakukannya, Jiyeon melihat Sehun yang menatapnya khawatir. Yang dilakukannya hanyalah menangis sejadinya, seketika dia menghentikan tangisnya saat ia tersadar kini Sehun memeluknya, namun itu hanya sesaat dia kembali menangis membasahi seragam Sehun.

Korea Selatan, Ulsan, 24 November 2009

 

Jiyeon kembali menjadi gadis pendiam, tiap kali Sooji dan Soojung menyapanya, yang dilakukannya hanyalah diam dan terus berjalan mengabaikan keduanya. Sehun? Hanya menjadi orang ketiga yang tahu akan semua yang dilakukan gadis itu.

Koridor sekolah tampak sepi pasalnya ini sudah lewat dua jam dari bel pulang sekolah, namun kedua insan itu tetap pada bangkunya. Sehun menatap Jiyeon, sedangkan gadis itu diam dengan pikirannya. Muak, itu yang dirasakan Sehun saat ini. Pria itu bangkit dan mendekati gadis itu merapihkan tasnya, menarik lengannnya. Kekeuh, Jiyeon tetap duduk dibangku tidak menangis, tidak marah. Ekspresinya kosong.

“Kau pikir kau orang yang paling menderita didunia ini? Banyak dari mereka yang kehilangan orang yang mereka cintai! Namun mereka bangkit tidak ingin tertinggal, mereka meraih mimpi mereka, mereka berusaha mencari seseorang yang mereka cintai untuk menjadi alasan mereka meraih mimipi! Dan kau harus seperti itu” Jiyeon terisak mendengar perkataan Sehun, biarkan dia menjadi egois bahwa hidup itu adalah Mukjizat dan ia ingin menyianyiakan Mukjizat itu dengan membunuh dirinya.

“Kumohon, aku sangat tersiksa melihatmu seperti ini” Ucap Sehun lembut, bahkan terlanjur lembut, pria itu membungkuk meraih wajah Jiyeon menghapus air matanya dan tersenyum pada gadis itu. Jiyeon hanya mentapnya tidak percaya, Sehun mengecup kedua matanya. Dan membisikkan satu kata mantra yang membuatnya tersihir semangat

“Aku mencintaimu” Gagal, Sehun gagal membuat gadis itu menghentikan tangisnya yang ada gadis itu justru lebih bersemangat menangis. Jiyeon melonjak memeluk Sehun hingga pria itu tersungkur, ya kata kata itu mantra yang membuat Jiyeon kini tersenyum memeluk pria itu

“Aku juga mencintaimu”.

Korea Selatan, Ulsan, 17 September 2007

 

Sehun POV

Mengapa harus ada yang namanya sekolah? Apa semua pekerjaan mengharuskan berpikir? Basket tidak. Aku benci sekolah. Melihat beberapa wanita berisik yang membicarakan sana sini, melihat beberapa pria yang menggoda wanita, apa tidak ada yang membuatnya sedikit bersemangat?

“Kita kedatangan murid baru, ayo kenalkan dirimu” Kutatap gadis yang berdiri disamping guru Jeon, dia cantik, mengalahkan Bae Joohyun kelas sebelah.

“Aku Park Jiyeon, pindahan dari Jepang” Aku tersenyum mengingat perkenalannya yang teramat singkat. Kuharap ia senang tinggal di negara ini.

***

Korea Selatan, Ulsan, 1 September 2008

Dia gadis pendiam yang tidak semua orang bisa dekati, sudah satu tahun aku melihatnya diam tidak ada teman. Tapi sayang aku tidak ingin menjadi temannya, aku ingin lebih. Melihatnya adalah rutinitasku, mengikutinya adalah hobiku, semuanya menyangkut tentangnya. Aku ingin saat aku menjadi pemain basket kelak, dia datang menyemangatiku dengan senyumannya.

***

Korea Selatan, Ulsan, 19 Agustus 2007

 

Jiyeon POV

Satu tahun menjadi penganggur sangat menyedihkan, kukerutkan keningku melihat seorang pria berseragam sekolah. Dia tampan, dijari telunjuknya bola basket yang sedari tadi ia putar. Apa dia sangat menyukai basket? Apa aku boleh tahu dimana ia sekolah? Siapa namanya?

***

Korea Selatan, Ulsan, 17 September 2007

“Park Jiyeon, pindahan dari Jepang” Ucapku singkat, sedikit kulirikkan mataku menatapnya. Dia tersenyum, apa dia menyukai perkenalanku? Kyuhyun sensei, bolehkan aku mengatakan aku mencintainya didepanmu?

END

Advertisements

11 thoughts on “I’m Here [ONESHOOT]

  1. Oh jadi Jiyeon sehun udah saling tertarik dari awal pertemuan mereka. Rada bingung sih awalnya, tapi ngerti juga. Kasian Jiyeon harus hidup sendirian satu2nya yg dia punya hanya Kyuhyun tapi sayang ya Kyuhyun harus pergi, nyesek pas kata2nya Jiyi sebagai ulat, kepopong dan kupu2 yg terkena jaring laba2, keren. Dan endingnya Jiyeon menemukan semangat hidupnya lagi, dan yakin Sehun adalah jodohnya kelak, happy ending walau kurang greget, ovel all daebak .

    Sebenernya lagi mau vakum dari dunia sehun tapi entahlah jiwa shipper masih kuat(?)

    Semoga buat ff JiyeonMingyu ada lagi cerita baru yaa, sangat disayangkan udah diapus padahal keren banget.

    Next ff lainnya

  2. jadi jiyeon dr pertama lihat sehun, udah mulai suka? trus dia mncoba brsekolah diskolah yg sama dgn sehun begitu???
    sehun juga dari pertama lihat jiyeon mmperkenalkan diri, udh lgsg tertarik sma jiyeon 🙂
    aq sedikit bingung dgn kalimat “mencintai” yg diucapkan kyuhyun…..dia mncintai sbgai apa sih? gadis kecilnya kan? sebagai anaknya kan, bukan sbgai seorang wanita kan???

    tapi aq seneng krna akhirnya sehun dan jiyeon happy ending 🙂

  3. Ternyata sama sama saling suka dari awal :”) jiyeon kasian banget ditinggal satu satunya orang yang dia sayang. Tapi hrusnya jiyeon ga acuhin soojung sama sooji dong, kasian mereka juga udah berusaha keras biar bisa temenan huhuhuhu tapi ya akhirnya happy ending buat hunji yeaayy~

  4. Jadi ternyata dari pertemuan awal sehun sma jiyeon itu mereka udah merasakan suka satu sma lain, kasian jiyeon harus ditinggal kyuhyun, tpi untungnya ada sehun yg bisa membuat jiyeon semangat buat hidupnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s